Tampilkan postingan dengan label Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

Inilah Wajah Antartika Bila Telanjang

98 persen wilayah Antartika ditutupi oleh es dengan 1 persen saja yang "menyembul" bak gunung kecil. Akibatnya, manusia tak pernah tahu wajah Antartika yang sebenarnya.

Ilmuwan yang tergabung di British Antartic Survey (BAS) lewat BEDMAP Project berupaya menelanjangi Antartika dengan bantuan radar pesawat dan GPS sejak tahun 1980an.


Gelombang radar yang digunakan akan menembus lapisan es dan memantul ke pesawat sehingga ketinggian permukaan batuan di Antartika bisa diketahui. GPS memastikan ketepatan lokasi yang disurvei.

Hasil observasi menunjukkan bahwa antartika memiliki topografi yang beragam. Terdapat pula pegunungan setinggi pegunungan Alpen, mencapai 3000 meter di atas permukaan laut.

Dalam citra yang dihasilkan seperti gambar di atas, Antartika tampak berwarna. Daerah yang tinggi berwarna merah sementara daerah yang terendah berwarna biru tua. Wilayah biru muda adalah landasan kontinen.

Citra yang dihasilkan dalam proyek ini adalah peta topografi pertama Antartika. Dalam citra itu, Antartika yang berwarna putih tampak sebagai benua pelangi.

Meski mungkin topografi Antartika tampak cantik tanpa "topeng" es, namun membiarkan benua itu tak boleh telanjang. Jika es mencair dan Antartika telanjang, bencana besar akan terjadi.

Planet Superpanas Tetangga Bumi

Ilmuwan dari National Optical Astronomy Observatory menemukan planet superpanas tetangga Bumi. Planet tersebut dinamai Kepler 21b, mengorbit bintang induk yang bernama Kepler 21.Jarak planet itu hanya 352 tahun cahaya. "Berdasarkan standar astronomi, itu tepat tetangga kita," kata Katy Garmany, staf deputi pers National Optical Astronomy Observatory (NOAO) seperti dikutip Huffington Post, Kamis (1/12/2011).

Planet ini mengorbit bintangnya hanya dari jarak 6 juta kilometer, 10 kali lebih dekat dari jarak Matahari dan Merkurius. Karena itu, suhu planet ini begitu panas, mencapai 1.627 derajat celsius.

"Ini terlalu panas bagi makhluk seperti kita untuk hidup," kata Steve Howell, peneliti Ames Research Center NASA di California, Amerika Serikat, seperti dikutip Discovery, Rabu (30/11/2011).

Jarak yang begitu dekat membuat revolusi planet pun begitu singkat. Satu kali revolusi atau satu tahun di planet itu setara dengan 2,8 hari di Bumi!

Meski mungkin tak mendukung kehidupan dan tak memiliki batuan, Kepler 21 b tetap menarik. Massa planet ini antara 5-10 kali ukuran Bumi, tetapi ukurannya hanya 1,6 kali ukuran Bumi.

Mayoritas eksoplanet (planet di luar Tata Surya) yang ditemukan memiliki ukuran setara Yupiter dan Saturnus. Penemuan planet ini menunjukkan bahwa teknologi kini sudah menunjang penemuan planet seukuran Bumi.

Jumlah eksoplanet kini mencapai 700 buah. Wahana Kepler milik NASA telah memiliki 1.200 lebih kandidat lainnya. Penemuan Kepler 21b dipublikasikan di Astrophysical Journal.

Misteri Batik di Mars Terungkap

Permukaan Mars, seperti di salah satu kawah bernama Russel, memiliki permukaan yang tidak rata. Hasil pencitraan yang dilakukan menunjukkan bahwa permukaan kawah Russell layaknya batik, memiliki garis-garis misterius yang proses pembentukannya belum terungkap.

Baru-baru ini, tim peneliti yang tergabung dalam Mars Global Surveyor berhasil menguraikan sebab pembentukan motif aneh di planet merah itu. Sempat dikira terbentuk oleh air, ilmuwan menjelaskan bahwa motif itu justru terbentuk oleh Karbon Dioksida (CO2).

Ceritanya, wilayah kutub Mars dimana kawah Russell berada terdiri dari CO2 dan air. Ketika Matahari menghangatkan wilayah ini, air dan CO2 mengalami perubahan wujud disebut sublimasi, dari padat langsung menjadi gas tanpa melewati fase cair.

Gas akan mengangkat partikel debu yang ada di permukaan Mars, mengurangi gesekan, memungkinkan partikel debu bergerak mudah. "Gas memberikan bantalan sehingga partikel tidak terikat satu sama lain dan berhenti bergerak," kata Allan Treiman dari Lunar and Planetary Institute di Texas.

Treiman yang bekerjasama dengan Yolanda Cedillo-Flores dari Universidad Nacional Autonoma de Mexico seperti dikutip Space, Rabu (7/12/2011), mengatakan bahwa partikel debu dan pasir itulah yang membentuk motif aneh tersebut. Biasanya, pembentukan terjadi di musim semi.

Syarat pembentukan motif aneh itu adalah suhu -78 derajat Celsius. Suhu tersebut memungkinkan sedimen berada di atasnya. Sedimen akan bertindak sebagai insulator. Di zona hangat, CO2 dan air takkan tersublimasi, tapi di zona dingin, hal itu akan terjadi.

Mungkinkah motif ini terjadi di Bumi? Sangat jarang dijumpai. Bumi terlalu hangat dan lembab untuk memungkinkan fenomena ini terjadi. Yang mungkin terjadi adalah aliran salju bercampur dengan gas dan debu.

UFO Parkir di Merkurius?

Wahana STEREO milik NASA memangkap Lontaran Massa Korona dari Matahari ke yang melewati Merkurius. Dalam rekaman yang diambil Kamis (1/12/2011) lalu, tampak bintik-bintik kuning menghiasi latar angkasa yang berwarna merah.Lontaran Massa Korona memang sudah biasa ditangkap wahana antariksa.
Yang unik, dalam rekaman yang kemudian diunggah ke Youtube itu, terdapat objek misterius di dekat Merkurius. Sontak objek itu menyita perhatian pemburu alien. Mereka menyatakan, objek itu adalah pesawat alien yang parkir.


"Itu kelihatan silindris pada dua sisi dan punya bentuk di dalamnya. Ini persis seperti pesawat menurut saya, sangat pasti. Objek apa yang sendiri dan tidak muncul sampai diberi energi oleh Matahari," kata pengguna Youtube, SinXster.

Anggapan bahwa objek itu pesawat alien mungkin tidak masuk akal. Dan demikianlah diungkapkan fisikawan yang bekerja di Naval research Laboratory (NRL), Amerika Serikat, lembaga yang mengelola data teleskop Heliospheric Imager-1 (HI-1), teleskop yang menangkap rekaman itu.

Nathan Rich, fisikawan di lembaga itu mengatakan bahwa objek misterius itu adalah artifak dari data yang diproses. Bukannya sebuah pesawat milik alien alias UFO, objek adalah Merkurius. Objek menunjukkan posisi Merkurius pada hari sebelumnya.

Bagaimana bisa? "Ketika proses ini dilakukan di hari kemarin dan sekarang, ada fitur seperti planet, tampak sebagai artifak gelap di background planet di hari sebelumnya, yang kemudian tampak sebagai bagian terang di citra," jelas Rich seperti dikutip Space, Selasa (6/12/2011).

Rich menjelaskan bahwa untuk merekam lontaran massa korona, ilmuwan mengambil gambar pada hari H dan sebelumnya. Mereka membandingkan, mengurangi cahaya latar semaksimal mungkin dan berusaha agar tidak ada citra yang tertampil dua kali.

Teknik ini bekerja pada objek seperti bintang yang tidak bergerak secara relatif terhadap Matahari. Namun, benda yang bergerak seperti planet di Tata Surya, citranya sulit untuk dihapus. Jadilah keudian citra itu tetap tampil. Jadi, apakah objek misterius itu UFO? 99,99 persen tidak.

Malam Minggu, Gerhana Bulan Terakhir Tahun Ini

Malam minggu nanti, Sabtu (10/12/2011), langit malam di Indonesia akan dihiasi oleh gerhana Bulan. Gerhana ini cukup istimewa sebab menjadi Gerhana Bulan Total terakhir pada tahun 2011. Astronom Ma'rufin Sudibyo dalam posting di jejaring sosialnya, Minggu (4/12/2011) lalu, mengatakan, "Gerhana mulai terjadi pada pukul 18.35 WIB ditandai dengan mulai bersentuhannya cakram Bulan terhadap penumbra." Namun, Ma'rufin menjelaskan bahwa tahap awal gerhana akan sulit dilihat secara kasat mata. Gerhana baru bisa dilihat jelas sekitar pukul 19.46 WIB, saat bulan bersentuhan dengan umbra.
"Totalitas, yakni tertutupinya cakram Bulan secara sepenuhnya oleh umbra, terjadi pukul 21.07 hingga 21.57 WIB, selama 50 menit, dengan puncak gerhana pukul 21.32," tutur Ma'rufin.

Saat totalitas terjadi, jangan dikira Bulan akan lenyap. Bulan akan "berdarah", berwarna kemerahan seperti yang sering diperlihatkan dalam film tentang manusia serigala.

Tak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman disaksikan tanpa alat dan pelindung. Karena terjadi tak terlalu malam, maka gerhana Bulan kali ini pas dinikmati sambil minum kopi atau bercengkerama bersama teman.

Jangan lupa, Anda pun bisa menyiapkan kamera DSLR untuk mengabadikan momen gerhana ini. Membuat serangkaian foto gerhana dari tahap awal hingga akhir patut dicoba.

Ada yang unik dari gerhana kali ini. Saat totalitas terjadi, Bulan akan tampak berada di depan Bimasakti. Jadi, jika dilihat, di belakang Bulan berdarah akan tampak kabut tipis.

Bimasakti adalah galaksi tempat Bumi bernaung. Ma'rufin mengatakan, Bimasakti juga "monster" yang telah menelan galaksi-galaksi kecil lain serta merupakan salah satu galaksi tertua di semesta.

Bulan berdarah juga akan memiliki beberapa pendamping malam Minggu nanti. Salah satunya Jupiter yang sejak beberapa waktu lalu terus-menerus tampak dan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, bintang Sirus yang menjadi bintang paling terang setelah Matahari juga akan terlihat. Ada juga gugus tujuh bintang bersaudara atau Pleiades. Galaksi Awan Magellan Kecil dan Besar juga akan terlihat.

Semua benda langit yang terlihat saat gerhana menjanjikan pemandangan yang menarik pada malam Minggu nanti. Tetapi, semua bisa lenyap tak terlihat bila langit berawan dan hujan. Jadi, berdoa saja hal itu tak terjadi.

Gerhana kali ini bisa dilihat oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Indonesia juga beruntung karena berpeluang menyaksikan seluruh tahap gerhana. Amerika Selatan, Afrika barat, dan seluruh wilayah Atlantik tak bisa menikmati gerhana ini.

Gerhana Bulan Total terjadi saat Bumi, Matahari, dan Bulan berada di satu garis lurus. Bulan akan ada di umbra (bayang-bayang inti) dan penumbra (tambahan) Bumi. Gerhana Bulan Total adalah salah satu fenomena alam yang telah dinikmati selama ribuan tahun, yang diterjemahkan menjadi makna yang berbeda di setiap kebudayaan.